Jumat, 09 September 2011

Zikir

Karya : D. Zawawi Imron
Alif, alif, alif,!
Alifmu pedang di tanganku
Susuk di dagingku, kompas di hatiku
Alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut
Hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan
 Terang
 Hingga aku
 Berkesiur
 Pada
 Angin kecil
 Takdir-
 Mu

Hompimpah hidupku, hompimpah matiku
Hompimpah nasibku, hompimpah, hompimpah
Hompimpah!
Kugali hatiku dengan linggis alifmu
Hingga lahir mataair, jadi sumur, jadi sungai,
Jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang
Mengerang menyebut alifmu
Alif, alif, alif!

Alifmu yg Satu 
Tegak dimana-mana

Selesailah Tanggung Jawab itu.!!!!

suatu kenangan yang tak terlupakan menjadi kepengurusan IMSADA 2009-2011 banyak yang diperoleh selama berproses di IMSADA. sehingga percaya atau tidak membuat sadar betapa sulitnya mengumpulkan orang-orang. tapi semua itu akhirnya terlewati. dan kita hanya bisa tersenyum kemudian tertawa karena sudah lepas dari tanggung jawab yang berat itu. sebuah syukur Alhamdulillah, sungguh beruntung sekali bisa ada gerakan IMSADA di Desa kita sehingga paling tidak kita bisa akompol-kompol untuk memperbincangkan sesuatu yang dianggap "Kentok" oleh sebagian masyarakat kita. yaitu memperbincangkan suatu kemajuan Desa. salam sejahtera buat kita semua. maaf apabila ada kesalahan selama menjadi ketua IMSADA. Thanks 4 all....Salam Happak Jee

Jumat, 04 Februari 2011

Kesadaran mencintai Lingkungan*

Oleh: Muhyidin el-febiens

Di hari idul adha ini kita bisa meningkatkan hubungan kita kepada Allah dengan pembuktian rasa Syukur atas semua nikmatnya kepada kita. Kita sebagai hamba memiliki tugas utama, yaitu mengabdi dan menyembah kepada Allah dan kita juga harus mengikhlaskan semua ibadah dan amalnya hanya untuk Allah. Kita juga sebagai khalifah mempunyai suatu kewajiban yang mungkin sering terlupakan, yaitu menjaga dan memakmurkan bumi bukan malah merusaknya.

Jadi, kita tidak hanya harus tinggi dalam menjalin hubungan dengan Allah, tapi kita juga harus menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia dan Alam kita (Hablum minal Alam). Dengan mencintai lingkungan, maka kita akan dicintai Tuhan. Jika berbicara tentang mencintai lingkungan tentunya menyangkut juga watak dan cara berpikir. Sebab tindakan muncul dari pikiran, kepedulian muncul dari kesadaran, dan sadar itu muncul karena berpikir.
Di zaman Globalisasi ini, mungkin kita sedang krisis dalam berhubungan dengan alam. kita selalu dihantui dengan berbagai bencana alam. Bencana tsunami, banjir, gempa Bumi dan tidak lupa pula gunung-gunung yang akhir-akhir ini selalu memuntahkan laharnya. Bencana alam ini pada dasarnya bisa dikelompokkan menjadi dua. Pertama, bencana yang bisa kita cegah agar tidak terjadi. Misalnya: Banjir, akibat sungai yang penuh sampah. Kedua, bencana alam yang tidak bisa kita cegah. Misalnya: Gunung meletus.

Bencana Banjir yang terjadi baru-baru ini di Desa kita mungkin sudah jelas bahwa kita harus lebih mencintai lingkungan. Seperti misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan ke sungai. membuang sampah di sungai mungkin sudah menjadi kebiasaan. Dengan peringatan model apapun sepertinya sudah tidak digubris lagi oleh orang-orang yang memiliki kebiasaan buruk tersebut. Selain menimbulkan pencemaran, membuang sampah di sungai juga bisa menimbulkan bencana banjir karena sampah bisa menyumbat saluran air ataupun membuat sungai menjadi dangkal. Kira-kira peringatan seperti apa yang bisa dipatuhi oleh orang-orang yang memiliki kebiasaan membuang sampah di sungai?

Sebenarnya Bukan hanya itu saja yan perlu kita waspadai. Masalah Abrasi Pantaiyang telah meluluh lantahkan sawah-sawah Masyarakat juga menjadi masalah yang tak pernah terselesaikan dengan maksimal. Bayangkan saja, jika masalah ini belum ditangani, maka sepuluh tahun yang akan datang diperkirakan akan menghanguskan semua Sawah masyarakat kita. Lalu akan makan apakah generasi kita nanti? Renungkanlah….!!!

Memang, manusia sebagai khalifah diberi wewenang dan hak untuk memanfaatkan alam bagi kebutuhan hidupnya. Namun, pemanfaatan ini tidak boleh berlebih-lebihan apalagi merusak ekosistem (sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya). Pengelolaan alam ini harus didasarkan pada rasa tanggug jawab: tanggung jawab kepada kemanusiaan, karena rusaknya alam akan berakibat bencana dan malapetaka bagi kehidupan kita semua. Dalam hal ini, sudah jelas kiranya untuk tidak melakukan penebangan liar di hutan maupun di gunung-gunung sekitar kita.

Maka bagi kita semua yang peduli akan lingkungan, lakukanlah yang terbaik untuk lingkungan, dan serukanlah kepada orang lain agar mereka mempedulikan nasib lingkungan. Atau mulailah dari kita sendiri (Ibtida’ Bin Nafsi), biasakan tidak membuang sampah sembarangan, kurangi pemakaian bahan plastik dan sejenisnya karena sampah plastik merupakan bahan yang tidak mudah rusak, kurangi pemakaian energi/ listrik berlebihan, maka anda sudah peduli lingkngan.

Jadilah orang yang mencintai lingkungan demi masa depan generasi/ keluarga kita (anak cucu).


*Tulisan ini mpernah dimuat di buletin INSPIRASI IMSADA edisi III